Di Era Industrialisasi Arsitek tidak lagi menjadi sang pencipta yang mandiri tetapi sekadar perangkai produk-produk yang sudah ada. Dunia kehidupan kita kini banyak disuguhi kabar konflik dan kejahatan dalam banyak cara, Saatnya kita kedepankan kedamaian dan kasih sayang . Arsitektur publik sudah saatnya dibangun melalui proses sayembara agar dihasilkan karya yang kredibel . Teknologi Informasi dan komunikasi sudah sangat berkembang. Saatnya membangun inovasi kreatif untuk meningkatkan kualitas kehidupan. Jangan terkecoh oleh media sosial yang mengajak pada perpecahan. Selalu sampaikan salam damai dan kasih sayang

Sabtu, 19 Juli 2014

Arsitektur dan Al-Qur'an

Allah dalam Islam adalah wujud transenden yang tak ada pandangan dapat melihatnya. Ia berada di atas segala perbandingan. Tidak ada sesuatu seperti Dia. Ia ada di luar jangkauan penjelasan apapun, dan tidak dapat direpresentasikan melalui penggambaran. Allah secara unik tidak dapat dikenai pertanyaan tentang siapa, bagaimana, dimana dan kapan? Kecuali pernyataan tentang ke-Esa-an dan transendensi-Nya yang dikenal dengan istilah Tauhid.

Pun, dalam al-Qur’an tidak pernah menyertakan representasi Allah melalui perangkat inderawi, baik dalam bentuk manusia, binatang maupun simbol figural lainnya.
Dalam hal berkesenian [termasuk arsitektur], Islam membawa tuntutan baru bagi ekspresi estetis. Suatu pola yang dapat memfasilitasi objek kontemplasi estetis yang menyokong ideologi dasar dan struktur masyarakat untuk secara terus-menerus mengingatkan pada prinsip-prinsip Islam. Dan menjauhi kultus material dan simbol-simbol yang mendekati syirik. Orientasi dan tujuan estetika Islam tidak dapat dicapai melalui figurasi manusia dan alam. Seni Islam hanya dapat direalisasikan melalui kontemplasi kreasi artistik yang dapat membawa pengamatnya kepada intuisi tentang kebenaran: bahwa Allah sangat berbeda dengan ciptan-Nya. Seni Islam didasarkan pada pernyataan negatif Lailaha illaLlah, bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan sepenuhnya Ia berbeda dengan manusia dan alam. Dalam dimensi positif kalimat tauhid juga menekankan bukan saja pada apa yang bukan Tuhan, melainkan pada apa yang merupakan sifat-sifat Tuhan.

Hal mendasar dari ajaran ini adalah bahwa Doktrin Islam memandang Allah sebagai Zat tak terhingga dalam segalanya. Tiada cara dan kemampuan apapun menghitung sifat yang dimiliki-Nya atau menjelaskan sifat manapun yang dinisbatkan kepada-Nya. Sifat-sifatnya selalu berada di luar jangkauan pemahaman dan penjelasan manusia. Pola-pola yang tidak memiliki awal maupun akhir yang mengesankan ketakterhinggaan (infinit). Dengan demikian pola infinit merupakan terobosan Islam dalam metoda berkesenian. Satu metoda iconoclastic [memecah gambar] yang di kalangan Kristen sebelumnya telah menimbulkan masalah fundamental dalam hubungan negara dan agama. Melalui pola infinit, kandungan subtil ajaran Islam dapat dialami dan dirasakan. Ekspresi estetik pola infinit ini seringkali juga disebut sebagai pola arabesq. Arabesq ini mampu memberi intuisi sifat ketakterhinggaan yang melampaui ruang dan waktu. Melalui kontemplasi atas pola infinit, jiwa pengamat akan diarahkan pada yang Ilahi dan seni menjadi suatu penguat dan penegak keyakinan agama. Bagi muslim, alam meskipun mulia dalam variasi dan kesempurnaannya hanya sekadar media dan panggung manusia beraksi untuk memenuhi kehendak dari Realitas atau Sebab yang lebih tinggi. Dan Tuhan adalah realitas tertinggi.

Bila kebudayaan lain sebagaimana Yunani dan Romawi menganggap manusia sebagai ukuran segala sesuatu yang dikenal dengan antrohomorphisme atau alam sebagai determinan ultima, maka perhatian kaum Muslim lebih kepada Tuhan dalam transendensinya tanpa kompromi.

Al-Qur’an sebagai kitab yang datang dari Allah sendiri dalam keseluruhan bentuk, susunan, bahasa dan maknanya telah memberi inspirasi bagi wujud seni infinitas itu. Metode stimulasi kesan infinitas dan transendensi melalui isi dan bentuk estetik al-Quran dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Abstraksi
Pola infinit seni Islam yang pertama bersifat abstrak. Meskipun representasi figuratif tifak sepenuhnya dihilangkan, namun sangat jarang ditampilkan dalam tradisi seni Islam. Bahkan ketika figur-figur alami itu digunakan mereka mengalami denaturalisasi dan teknik stilisasi agar lebih sesuai dengan peran sebagai pengingkar naturalisme dan bukan sebagai penghadir fenomena natural.

Al-Qur’an tidak pernah melakukan penghadiran realistis dan naturalistik terhadap alam, serta menolak perkembangan naratif sebagai prinsip organis sastra. Rujukan kepada berbagai fakta tertentu dilakukan secara segmental dan dilakukan secara berulang-ulang, sehingga pembaca menjadi akrab dengan cerita yang disampaikan. Tujuan utamanya bukan naratif melainkan pendidikan moral. Struktur utama al-Qur’an (Surat Madaniyah yang panjang mirip prosa berada di awal, sedang surat Makkiyah yang pendek dengan nada puitik kuat berada di akhir) juga memberi kontribusi tersendiri terhadap sifat abstrak al-Qur’an. Surat yang ada tidak mengarahkan pembaca kepada serial suasana hati yang kontras dan dramatis. Melainkan pembaca digerakkan dengan emosi yang telah diabstraksikan atau dilepaskan dari karakterisasi yang spesifik. Ayat maupun surat secara pasti membangkitkan emosi pendengarnya namun dilakukan tanpa menimbulkan suasana hati tertentu.

2. Struktur Modular
Karya seni Islam tersusun atas berbagai bagian atau modul yang dikombinasikan untuk membangun rancangan atau kesatuan yang lebih besar. Masing-masing modul adalah sebuah entitas yang memiliki keutuhan dan kesempurnaan sendiri, yang memungkinkan mereka untuk diamati sebagai sebuah unit ekspresif dan mandiri dalam dirinya sendiri maupun sebagai bagian penting dari kompleksitas yang lebih besar.

Al-Qur’an sebagai karya Ilahiyah juga terbagi dalam berbagai modul sastrawi [ayat dan surat] yang muncul sebagai segmen yang utuh dalam dirinya sendiri. Masing-masing modul sudah lengkap, dan tidak tergantung pada apapun yang ada sebelum dan sesudahnya. Modul tersebut hanya sedikit memiliki hubungan, atau bahkan tidak sama sekali dengan modul lain yang mengharuskan ada sekuensi tertentu. Dalam pembacaan yang baik periode diam (waqfah) menjadi tanda yang jelas bagi pemasukan modul aural ke dalam suatu bacaan.

3. Kombinasi suksesif
Pola-pola infinit dalam seni Islam menunjukkan adanya kombinasi keberlanjutan (suksesif) dari modul-modul dasar penyusunnya. Elemen-elemen tersebut disusun untuk membangun sebuah desain yang lebih besar, utuh dan independen. Kombinasi suksesif berlangsung bukan dalam cara yang dapat merusak identitas dan karakteristik unit-unit penyusunnya. Bahkan kombinasi besar tersebut pada gilirannya dapat diulang, divariasi dan digabung dengan entitas lain yang lebih kecil maupun yang lebih besar untuk membentuk kombinasi yang lebih kompleks lagi. Sehingga dalam pola infinit tidak hanya ada satu fokus perhatian estetik, melainkan terdapat sejumlah penglihatan yang harus dialami ketika mengamati modul entitas atau motif-motif yang lebih kecil. Tidak ada desain yang hanya memiliki satu titik tolak estetik atau perkembangan progresif yang mengarah pada poin vokal yang kulminatif dan konklusif. Desain Islam selalu memiliki titik pusat yang tak terhitung jumlahnya. Sebuah gaya persepsi internal yang menghilangkan kesan adanya permulaan maupun akhir yang konklusif.

Baris dan ayat al-Qur’an bergabung membentuk entitas-entitas yang lebih besar dalam kombinasi suksesif. Ia bisa berupa ayat-ayat yang pendek maupun bagian dalam surat yang panjang. Misal sepuluh ayat membentuk sebuah usyr. Beberapa usyr menyusun sebuah rub atau perempat. Empat rub menyusun sebuah hizb. Dua ahzab membentuk sebuah juz dan tiga puluh ajza menyusun al-Qur’an yang lengkap. Sejauh tidak merusak makna jumlah pengambilan ayat-ayat yang dibaca dapat bervariasi. Membaca al-Qur’an dapat diakhiri dengan satu surat lengkap dan dapat juga selesai pada beberapa ayat atau bahkan beberapa frase dalam satu ayat atau mungkin juga sangat panjang mencakup dua surat atau lebih. Al-Qur’an dapat dibaca dan diperdengarkan secara ma-tayassara [apa yang memungkinkan]. Dalam kondisi apapun ketika orang tergerak untuk membaca dan mendengar dalam suatu waktu atau kesempatan tertentu. Maka al’Qur’an tidak meninggalkan kesan perkembangan makna konklusif dan bersifat final.

4. Repetisi
Ciri lain adalah pengulangan dan intensitas yang cukup tinggi. Kombinasi aditif dalam seni Islam melakukan pengulangan tehadap beragai motif, modul, struktural maupun kombinasi suksesif mereka yang nampak terus berlanjut infinitum. Kesan abstrak diperkuat dengan pengulangan terhadap individu bagian-bagian penyusunnya. Ia juga mencegah modul manapun dalam desain tersebut untuk lebih menonjol dibanding yang lain.

Dalam al-Qur’an berbagai sarana puitis dihasikan melalui suara atau repetisi metris terpadu. Akhiran tunggal maupun ganda sering muncul. Frase dan garis refrain diulang berkali-kali untuk memperkuat kesan didaktis dan estetis. Pengulangan bebagai ide dan ungkapan dimasukkan dalam elemen keindahan bahasa.

5. Dinamisme
Dinamika dalam seni Islam menghendaki satu pemahaman dalam skala ruang dan waktu. Dalam kenyataannya pola infinit tidak akan pernah dapat ditangkap dalam satu tatapan tunggal, dalam momen tunggal, dengan sebuah penglihatan tunggal terhadap berbagai bagian yang ada. Melainkan ia menarik mata dan jiwa melalui serangkaian pengamatan atau persepsi yang harus ditangkap secara serial. Mata, telinga dan seluruh indra bergerak dari satu pola ke pola yang lain dari titik pusat ke titik pusat yang lain. Dan Arabesq tidak pernah menjadi komposisi yang statis. Sebaliknya apresiasi terhadapnya harus melibatkan seuah proses dinamis dalam mengamati masing-masing motif, modul dan kombinasi yang suksesif.

Al-Qu’an adalah karya sastra yang termasuk dalam kategori seni waktu. Serangkaian proses persepsi dan apresiasi mencegah adanya perkembangan kepada sebuah klimaks atau kesimpulan tunggal. Kesan kesatuan yang menyeluruh nampak lemah dan hanya melalui pengalaman bagian-bagian individualnya secara suksesif pembaca, pendengar dan pengamat dapat menangkap makna keseluruhan.

6. Kerumitan
Detail yang rumit merupakan ciri lain karya seni Islam. Kerumitan memperkuat kemampuan pola arabesq untuk menarik perhatian pengamat dan mendorong konsentrasi pada entitas struktural yang direpresentasikannya. Sebuah garis atau figur selembut apapun diolah tidak akan pernah menjadi satu-satunya ikon dalam rancangan seni Islam. Hanya dengan multiflikasi elemen internal dan peningkatan kerumitan penataan dan kombinasi akan dapat menghasilkan dinamisme dan momentum pola infinit.

Al-Qur’an sarat dengan sarana puitis. Didalamnya betabur paralelisme, antitesis, repetisi, metafor, analogi dan alegori. Perpaduan ini menyebabkan siapa yang membaca dan mendengarnya menjadi terkesan keindahan dan kesempurnaannya. Inilah yang menjadi substansi argumen bahwa al-Qur’an adalah mukjizat yang bersifat Ilahiyah.

Pustaka:

Al-Faruqy, Cultural Atlas of Islam, Mc Milan, New York,1986

Tidak ada komentar: